Indahnya Sekolah Inklusi
4 Komentar

INDAHNYA SEKOLAH INKLUSI

By Munif Chatib

Acara kenaikan kelas menjadi agenda rutin saya setiap tahunnya untuk berbicara di beberapa sekolah. Beberapa waktu yang lalu saya diminta memberikan seminar di acara pembagian rapor dan kenaikan kelas di sebuah SD INKLUSI, salah satu SD binaan saya. Bukan materi seminarnya yang ingin saya ceritakan disini, namun menit-menit sebelum saya naik panggung. Benar-benar merupakan ‘special moment’ yang luar biasa.

 

Macet sekali ketika akan memasuki gerbang sekolahnya. Sepertinya semua orangtua membawa mobil, sedangkan jalanan sempit. Ketika akan memasuki gerbang sekolah, di depan saya berhenti mobil sekolah yang cukup besar. Saya melihat seorang siswa turun dari mobil tersebut. Sepertinya gerakan tangan dan kakinya tidak sempurna. Sulit sekali untuk turun dari mobil. Apalagi dia membawa tas dan minuman. Tiba-tiba sekitar 6 orang temannya cepat menghampiri. “aku bawa tasnya, kamu bantu angkat kakinya turun dari mobil.”

“Aku bawa tas minumannya, ayo kamu harus bisa loncat, satu..dua tiga …,” teriak anak-anak itu membantu temannya yang kesulitan turun dari mobil. Lalu mereka bertujuh melakukan ‘tos’, tanda ucapan terima kasih.

 

Saya akhirnya tahu, anak tersebut adalah penyandang Cerebal Palsy, salah satu hambatan otak. Namun, pemandangan di depan mata saya membuat saya terenyuh dan berpikir. Sungguh masih banyak orang yang memandang sebelah mata sekolah inklusi. Masih banyak yang mengartikan anak berkebutuhan khusus harus disingkirkan dari anak reguler. Jika mereka mendapat kesempatan bersekolah, maka harus sekolah khusus, tidak boleh campur dengan anak reguler. Bahkan ada sebagian orang yang takut anaknya akan ‘ketularan’ dengan berkumpulnya anak spesial dalam satu sekolah atau satu kelas. Bahkan ada yang mengatasnamakan KEADILAN TUHAN, bahwa sekolah harus memisahkan dengan tegas ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS dengan ANAK REGULER. Jika sekolah menyatukan mereka, maka itulah sekolah yang TIDAK ADIL. ASTAGHFIRULLAHAL ADZIM ….

 

Saya hanya mengelus dada mendengar pendapat-pendapat seperti ini. Ketika tujuh siswa tersebut hilang dari pandangan saya. Tambah kuat paradigma saya tentang KEADILAN ILAHI. Enam siswa yang reguler tadi, yang mungkin setiap pagi membantu siswanya yang berkebutuhan, menurunkan dari mobil, membawakan tas, dan hal yang sederhana lainnya, Insyaallah mereka ketika dewasa akan menjadi manusia-manusia yang sukses dunia akhirat. Menjadi manusia yang mempunyai hati. Mempunyai kepedulian tingkat tinggi. Manusia yang selalu santun dalam berhubungan dengan oranglain. Menjadi manusia yang selalu dinanti oleh komunitasnya. Selalu ditunggu. Jika mereka menjadi pemimpin, akan menjadi pemimpin yang dicintai dengan tulus oleh anak buahnya. Bukan menjadi pemimpin yang ditakuti. Menjadi pemimpin yang selalu mendengarkan pendapat dari timnya. Menjadi pemimpin yang sejuk kala berbicara dengan semua orang. Menjadi pemimpin yang tidak mempunyai hobi mempersulit orang lain. Menjadi pemimpin yang selalu mengajak orang untuk maju dan sukses. Sudah terlalu banyak fakta menunjukkan, banyak orang ‘pandai’ namun ‘bodoh’ dalam kepedulian kepada sesamanya. Memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya diri sendiri.

 

Sungguh sekolah inklusi memberikan pembelajaran tentang kepedulian, keadilan Tuhan, dan perbedaan yang harus dihargai kepada anak-anak kita. Ketika dalam perjalanan pulang, terdengar lirih senandung lagu Iwan Fals …

 

Manusia sama saja dengan binatang
Selalu perlu makan
Namun caranya berbeda
Dalam memperoleh makanan
Binatang tak mempunyai akal dan pikiran
Segala cara halalkan demi perut kenyang
Binatang tak pernah tau rasa belas kasihan
Padahal di sekitarnya tertatih berjalan pincang

Namun kadangkala
Ada manusia seperti binatang
Bahkan lebih keji dari binatang

Tampar kiri kanan
Alasan untuk makan
Padahal semua tahu dia serba kecukupan
Himpit kiri kanan
Lalu curi jatah orang
Peduli sahabat kental kurus kering kelaparan

4 Komentar

  1. Yustri Mindaryani says:

    Saya jg punya keponakan Cerebal Palsy, dia sngat mandiri berangkat sekolah sendiri, ganti baju smpai mandi sndiri. Kelemahannya adalah jalannya tdk sempurna dan nilai akademiknya mmg jauh dr slow learner. Dia sekolah di SD negeri, sekarang sudah kelas 6. Bukan sekolah inklusi, keponakan sy naik kelas krn faktor iba (disana tidak ada treatmen utk keponakan sy yg spesial tsb). Dan sayangnya di lingkungan Jepara/Kudus tdk ada sekolah inklusi. Bagaimana ya pak Munif, utk memaksimalkan lifeskill dan bakat anak di rumah? atau mohon share-nya sekolah inklusi yg terdekat d lingkungan Jepara-Kudus. terima kasih.

  2. fivi silvani amor says:

    maaf pak munif,boleh tau,dimana lagi sekolah binaan bpk di cilegon/serang?saya sangat tertarikl dengan sekolah berbasis MI,krn disekolah anak saya sekarang malah mematikan kecerdasannya.terima kasih sebelumnya.

    • MunifChatib says:

      salam, bisa di liat di buku sy Sekolah Anak Anak Juara di dalamnya terdapat daftar sekolah yang menerapkan sistem MI..

Tinggalkan Komentar


3 + = 9

Form Konsultasi

Jika Anda ingin berkonsultasi dengan saya silahkan tinggalkan pesan dan secepatnya anda akan mendapat solusi dari saya, Terima kasih.

Nama*

Email*

Verification*
captcha

Your Message