MELURUSKAN INFORMASI TENTANG BUKU TRUTH, BEAUTY AND GOODNESS REFRAMED KARYA HOWARD GARDNER
4 Komentar

MELURUSKAN INFORMASI TENTANG BUKU TRUTH, BEAUTY AND GOODNESS REFRAMED KARYA HOWARD GARDNER

By Munif Chatib

truth-beauty-and-goodness-reframed-educating-for-the-virtues-in-the-twenty-first-century

Beberapa minggu yang lalu Dr. Haidar Bagir, salah satu pakar pendidikan Indonesia menulis di majalah Tempo yang berjudul PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN tentang pernak pernik kurikulum 2013 yang baru. Kutipan dalam paragraf pertama tulisan tersebut adalah sebagai berikut:

“Dalam bukunya yang paling mutakhir berjudul Truth, Beauty, and Goodness Reframed, Educating for the Virtues in the Twenty First Century, ahli pendidikan paling terkemuka dari Harvard, Howard Gardner, seperti menyesali pemikiran-pemikiran-pendidikannya sendiri yang terdahulu. Karena, meski sudah menawarkan paradigma kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang amat revolusioner bagi dunia pendidikan, sebelumnya ahli psikologi ini tetap saja cenderung melihat pendidikan lebih dari sudut pandang dua disiplin yang amat dominan di masa-masa modern ini : biologi dan ekonomi. Dengan kata lain, perspektifnya lebih materialistik dan pragmatik. Maka, dalam buku terbarunya ini, Gardner merasa perlu untuk melihat upaya-upaya perumusan pendidikan dari sudut pandang yang lebih humanioristik, yang meliputi sudut pandang filsafat, psikologi, sejarah, dan studi budaya (cultural studies).”

Dalam kesempatan berikutnya, saya dan Pak Haidar Bagir dan juga beberapa sahabat yang lainnya berdiskusi tentang buku tersebut. Izinkan saya berbagi dari hasil diskusi tersebut.
Kami semua sepakat bahwa teori multiple intelligences, terutama 8 kecerdasannya itu sangat manusiawi. Artinya mengangkat kembali bahwa melihat kecerdasan manusia itu harus diperluas, tidak dipersempit. Namun Howard Gardner melupakan atau sengaja tidak mengulas tentang nilai-nilai spritual dalam teori multiple intelligences tersebut. Kecerdasan eksistensial, sebagai kecerdasan yang ke-9 juga diakui oleh Gardner bulan kecerdasan spiritual.

Dalam kajian teori dan filsafat, buku Truth, Beauty, and Goodness Reframed, memberikan kabar kepada kita semua penyesalan Gardner tidak memasukkan unsur spritual terhadap teori kecerdasannya. Oleh sebab itu kami sepakat teori MI itu masih mempunyai perspektif matrealistik dan pragmatis. Belum menyentuh sudut pandang ‘manusia’ dan ruang lingkup keberadaan manusia secara filosofinya. Untuk apa manusia itu diciptakan, lalu harus berbuat apa dan kemana manusia akan kembali. Coba cermati komentar dari buku tersebut:

“The author is anxious about some dead-end streets as far as the pursuit of truth, beauty, and goodness is concerned. But he is optimistic that the young people of today (a “Fragmented Generation”) are working out their own special brand of the three virtues and will continue to do so via formal and informal education throughout their lives. In addition, Gardner sees the “third stage of adulthood” as one in which the mature person “has the potential and the time to appreciate the various truths across several realms; to refine his or her distinctive sense of beauty; and to tackle sensitively and sensibly the often vexed ethical issues that arise at the workplace, the ballot box, or the town square.

The last section of this fascinating book is most challenging with its insights into the important roles of education and lifelong learning in promoting truth, beauty, and goodness.”

Sepertinya Gardner berusaha bergerak untuk menyempurnakan teorinya terdahulu dengan tambahan unsur spritual yang masih juga ‘mengambang’. Saya sendiri sebagai seorang muslim menyadari perbedaan makna secara filosofi tentang ‘Islamic Spiritualism’ dengan ‘Western Spiritualism’

Dalam kajian teori, MI ini memang terus berkembang, tahun 1983 Gardner mengumumkan ada 6 kecerdasan, lalu tahun-tahun berikutnya Gardner memberikan tambahan-tambahan. Saya sendiri ketika mempelajari teori Gardner secara filosofi tidak pernah ‘MENUHANKAN’ teori tersebut, sebab kajian spiritual masih belum terlihat dalam teori tersebut.

Namun, tidak adil rasanya jika ada orang yang tidak setuju dengan teori MI secara membabi-buta, tiba-tiba ‘kealpaan’ Gardner tentang unsur spiritualnya membuat teori ini salah total 100%. Bahkan dengan dikatakan memporak-porandakan aplikasi teori MI ini dalam pendidikan Indonesia. Buat saya, pernyataan itu terlalu berlebih-lebihan. Orang yang bijak tentunya akan memahami ini. Bisa-bisa semua teori kecerdasan yang dimunculkan oleh para ahli disalahkan, dengan alasan tidak terkait unsur spritual didalamnya.

Lalu yang lebih parah, ruang lingkup kajian teori ini ditarik ke strategi mengajar yang juga salah. Saya sudah mengumpulkan sekitar 200 strategi mengajar yang beraneka ragam dan mempunyai pendekatan gaya belajar yang banyak sekali sangat menyenangkan bagi siswa jika diaplikasikan. Hasil pembelajaran siswa pun sangat baik ketika menggunakan strategi-strategi tersebut. Lalu apakah tiba-tiba strategi yang multi tersebut ‘salah’ dengan munculnya buku Truth, Beauty, and Goodness Reframed. Apakah kita harus kembali konvensional, menggunakan strategi CERAMAH ILA YAUMIL QIYAMAH? Tentunya tidak seperti itu.

Dalam diskusi dengan banyak sahabat, saya pernah berandai-andai, seandainya yang menemukan teori multiple intelligences itu seorang muslim. Tentulah unsur spritual pasti melekat. Malah menjadikan pondasi serta tujuan akhir dari perjuangan untuk sukses dunia akhirat. Dalam sebuah riwayat, ketika hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW berhasil menyatukan kaum Muhajirin dari Mekkah dan Anshar yang asli dari Madinah. Padahal, kaum Anshar sendiri banyak terpecah-pecah menjadi kabilah-kabilah yang sering berperang. Yang terkenal adalah kabilah ‘Auz’ dan ‘Hazrat’, yang bertahun-tahun tak pernah akur. Namun dengan keahliannya Rasulullah SAW berhasil mendamaikan mereka semua dengan kebiasaan selalu menyebut dan memanggil kelebihan setiap kaum pada saat itu. Sehingga setiap kaum bahkan setiap orang selalu merasa dihargai eksistensinya. Jika ilmu psikologi ada pada zaman itu, pastilah Rasulullah SAW yang dianggap menemukan teori kecerdasan multiple intelligences. Dan pastinya yang berlandaskan spritual tingkat tinggi, sehingga tidak sampai menerbitkan buku Truth, Beauty, and Goodness Reframed.

Semoga bisa meluruskan informasi. Dan selalu bersikap positif terhadap karya seseorang, meskipun karya itu masih compang-camping. Pasti menjadi langkah berikutnya akan memperbaiki dan menyempurnakan, dari siapapun orangnya.

4 Komentar

  1. Andri Yan says:

    Saya setuju dengan pendapat Pak Munif … ilmu itu berkembang karena adanya perbedaan cara pandang setiap orang.Perbedaan ini adalah rahmat dari Allah, kita tidak boleh saling menyalahkan, karena manusia tempatnya salah & lupa, seyogyanya kita ikut serta menjadi penyempurna dari kesalahan dan perbedaan tersebut… maju terus pendidikan Indonesia ….

  2. Mira says:

    Pak, mohon infonya “sekolahnya manusia” yg ada di solo (SD). Terima kasih sebelumnya.

  3. sandy says:

    Saya berpandangan bhw unsur spiritual itu tdk bs di pisahkan menjadi salah satu kecerdasan, tetapi spiritualitas itu merupakan sesuatu yg esensi dr semua aktifitas kehidupan kita, sehingga spiritualitas itu akan ada dlm setiap bagian kecerdasan bkn mjd salah satu dr bentuk kecerdasan.

  4. ADI BUDIAWAN says:

    setuju, sekarang saatnya pendidikan bukan sekedar pengajaran, tapi pembentukan karakter, dan pengembangan potensi. kalau boleh tau kapan akan ada program GUARDIAN ANGEL lagi pak munif mhon infonya. saya pengen banget ikut

Tinggalkan Komentar

Verification *

Form Konsultasi

Jika Anda ingin berkonsultasi dengan saya silahkan tinggalkan pesan dan secepatnya anda akan mendapat solusi dari saya, Terima kasih.